Category Archives: Kisah Inspiratif

Kisah Pohon Apel (Memahami cinta kasih seorang Ibu melalui sebuah cerita sederhana)

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Encouragement Bukan Discouragement

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Baca lebih lanjut

Yuk, Jadi Orang Tua Shaleh

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam “hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ” Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang adaperangkap tikus….”

Ia mendatangi ayam dan berteriak ” ada perangkap tikus”

Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.

Sang Kambing pun berkata ” Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali”

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sng ular berkata ” Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yangterperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.

Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.

Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.

Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan…Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

SO…JIKA DIKAITKAN DENGAN JIKA ANDA PUNYA ANAK: JANGAN ABAIKAN PERBUATAN ANDA HARI INI PADA ANAK. JANGAN DIKIRA PERBUATAN NEGATIF ANDA PADA ANAK TAK BERDAMPAK PADA ANDA DI MASA DEPAN. TANAM BIJINYA SEKARANG, TUAI BUAHNYA KELAK. APAPUN YANG ANDA LAKUKAN PADA ANAK SEKARANG, HASIL ANDA AKAN RASAKAN SENDIRI DI MASA DATANG (DUNAI ATAU DI AKHIRAT)
sumber : FB Orangtua Shalih

Tiga Karung Beras

Cerita pengasuhan yang sudah lama beredar. Sayang tak diketahui sumbernya. Jika tak salah ini kisah dari negeri tirai bambu.

Selamat menyimak dan mengambil ibroh (pelajaran) darinya.

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki.

Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik.

Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.Dan kemudian berkata kepada ibunya: ” Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah”.
Baca lebih lanjut

Kentang Busuk di Halal Bihalal

Bulan Ramadhan sudah berlalu, Lebaran pun sudah berlalu beberapa minggu ini, rasanya tak afhol jika tidak ada halal bihalal. Halal bihalal ini bukan suatu keharusan, tetapi lebih ke tradisi dan sebagai wadah untuk bisa silaturahim dan bermaaf2an. Hari kemarin , Kantor mengadakan halal bihahal mengundang karyawan yang sudah pensiun dan tentunya karyawan yang masih aktif. Di acara halal bihalal tersebut diisi tausyiah oleh para sesepuh . Seorang sesepuh bercerita ttg Kentang Busuk tetapi  bercerita sebagian, hanya diambil intinya ( Dengan bantuan mbah google, cerita lengkap Kentang Busuk  ternyata saya bisa dapat dari sini ).

Kisah diawali dari sebuah padepokan Budi Pekerti. Guru Bijaksana menutup pelajaran hari itu dengan sebuah pertanyaan empiris.

“Murid-muridku, hidup ini ibarat pelangi. Ibarat permen nano-nano. Ada rasa cinta, ada rasa benci. Nah, siapa yang punya rasa cinta?” Tanya Guru Bijaksana. Semua murid mengacungkan telunjuk. Beberapa sembari tersipu malu. Guru Bijaksana tersenyum.
“Bagus… bagus. Siapa yang punya rasa benci saat ini?” Tanya Guru lagi. Sepi. Murid-murid saling pandang. Satu demi satu mereka mengangkat telunjuk.

Baca lebih lanjut

Tausyiah Ramadhan

Alhamdulillah, kamis kemarin bisa mendengarkan tausyiah di mesjid kantor. Setiap tahunnya dkm di kantor memfasilitasi kegiatan Ramadhan.  Berikut Tausyiahnya :

Diceritakan, ada seorang pemuda, bernama Tsabit Ibrahim, pemuda itu dijuluki seorang ahli ibadah. Pada suatu hari, sang pemuda melewati jalan yang dipinggir-pinggirnya terlihat kebun apel, saat itu sang pemuda melihat ada apel yang jatuh, dia  ambil dan dimakan, tetapi sebelum apel itu habis, pemuda itu tiba2 teringat ” Astagfirullah, kenapa saya makan apel ini, padahal apel ini bukan kepunyaan saya, saya telah memakan setengahnya, tapi tetap saja tidak halal, karena saya belum meminta ijin pemiliknya, bisa jadi ibadah yang saya lakukan selama ini akan sia-sia karena apel ini belum halal” . Secepatnya pemuda itu mencari pemilik apel dan  dari kejauhan terlihat seorang bapak tua sedang berada di kebun apel itu, sang pemuda pun menghampirinya ” Assalamu’alaikum, bapak , apakah anda pemilik kebun ini, saya mohon halalkan apel ini, tidak sengaja saya telah memakan setengahnya, tetapi saya belum meminta ijin untuk memakan dan mengambilnya”, kemudian bapak tua itu bergumam ” Jujur sekali pemuda ini” dan bapak tua itu berbicara ” bukan saya pemiliknya, pemiliknya tinggal di tempat yang sangat jauh dari ini”. Baca lebih lanjut

Ayah, Kembalikan Tangan Dita

Dear All,
Buat semua yang telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua…. Ingatlah….semarah apapun, janganlah kita bertindak berlebihan… Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita especially pada anak2 yg masih kecil karena mereka masih belum tahu apa2.

Ini ada kisah nyata yg berjudul “Ayah, kembalikan tangan Dita………”

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.
Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Baca lebih lanjut