Pendidikan Seks Untuk Anak

Cerita 1 :

” Mba, kenapa ga pake celana panjangnya, malu tuh kelihatan celana dalamnya ? “, keluh Bunda kepada Amira, setelah melihat posisi Amira duduk dengan rok yang menyingkap melihatkan sebagian betisnya. ” Amira pun nyengir sambil menjawab ” Iya tadi lupa belum dipake”. Amira pun segera mengenakan celana panjang di balik rok panjangnya. Amira (4 thn) walaupun masih kecil, tapi Bunda ajarkan untuk menutup auratnya sejak dari dini, walaupun memakai rok panjang, tapi yang namanya anak, duduknya suka ga karuan, jadi Bunda suka membiasakan Amira kalo memakai rok harus sepaket dengan celana panjangnya.

Cerita 2 :
Weekend, Bunda dan anak2 berkunjung ke rumah kakek, mereka sangat senang bermain dengan saudara yang lain. Saat menjelang sore, Bunda pun menyuruh Amira mandi. “Ayo , Mba mandi dulu ” seru Bunda kepada Amira. Amira pun awalnya menolak untuk mandi, karena lagi anteng bermain dengan sepupunya, tapi akhirnya Amira pun menuruti Bunda untuk mandi. Bunda pun mulai membuka bajunya, tapi tiba-tiba Amira nyeletuk ” Bunda, jangan buka disini donk bajunya, malu ah, bukanya di kamar mandi aja”. Bunda pun tersenyum senang, ” Anak pintar, iya ya malu, tuh ada Mang Aan” . Bunda mengajarkan apabila buka baju untuk mandi harus dikamar mandi, jangan telanjang di depan orang lain.

Cerita 3 :
” Ih malu, belum pake celana ” celoteh Ayu kepada Amira yang baru saja pipis dan belum mengenakan celananya.

Cerita diatas adalah salah satu cara dalam menanamkan rasa malu pada Anak.

Cerita 4 :
Anak tetangga seusia Amira banyaknya anak laki-laki, sebetulnya tidak ada masalah, cuman kadang tiba-tiba anak tetangga mencium Amira atau memeluk Amira , mungkin ada kalanya sebagian orang tua menganggap hal itu wajar, dan lagian mereka masih anak kecil, belum mengerti apa-apa, tapi Bunda merasa risih melihatnya. Bunda pun memberi tahu Amira apabila ada anak laki-laki mau mencium, memeluk Amira, Mba lari saja atau bilang aja ” tidak mau “.

Cerita 5 :
“Bunda, kenapa tidak sholat ? “, Amira bertanya keheranan karena melihat Bunda tidak sholat dengan Ayah. Bunda pun menjawab ” Bunda sedang berdarah, lagi mengeluarkan kotoran, jadi tidak boleh sholat, nanti kalo mba sudah gede pasti ngalamin hal ini, jadi nanti jangan kaget ya”. “Kalo Ayah berdarah juga ga ?” tanya Amira sekali lagi, ” Kalo Ayah laki-laki , tidak berdarah seperti Bunda”. “oooo”, Amira merasa puas dengan jawaban Bunda dan tidak bertanya lagi.

Cerita diatas adalah salah satu upaya dalam mengajarkan anak bahwa ada hal2 yang tidak boleh dilakukan anak laki2 dan perempuan dan bahwa anak laki2 dan perempuan itu berbeda.

Setelah gogling, Menurut Zulia Ilmawati (Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Remaja ), di antara pokok-pokok pendidikan seks yang bersifat praktis, yang perlu diterapkan dan diajarkan kepada anak adalah:

1. Menanamkan rasa malu pada anak.
Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Membiasakan anak perempuan sejak kecil berbusana Muslimah menutup aurat juga penting untuk menanamkan rasa malu sekaligus mengajari anak tentang auratnya.

2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.

Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang berbeda yang kelak akan diperankannya. Mengingat perbedaan tersebut, Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga. Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin, dan perempuan memiliki kepribadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Untuk itu, harus dibiasakan dari kecil anak-anak berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Mereka juga harus diperlakukan sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. berkata:

Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. (HR al-Bukhari).

3. Memisahkan tempat tidur mereka.

Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Jika pemisahan tempat tidur tersebut terjadi antara dirinya dan orangtuanya, setidaknya anak telah dilatih untuk berani mandiri. Anak juga dicoba untuk belajar melepaskan perilaku lekatnya (attachment behavior) dengan orangtuanya. Jika pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.

4. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu).

Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Aturan ini ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu tersebut merupakan waktu aurat, yakni waktu ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 13). Jika pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur.

5. Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin.

Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya (toilet training). Dengan cara ini akan terbentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat.

6. Mengenalkan mahram-nya.

Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Dengan memahami kedudukan perempuan yang menjadi mahram, diupayakan agar anak mampu menjaga pergaulan sehari-harinya dengan selain wanita yang bukan mahram-nya. Inilah salah satu bagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak. Dengan demikian dapat diketahui dengan tegas bahwa Islam mengharamkan incest, yaitu pernikahan yang dilakukan antar saudara kandung atau mahram-nya. Siapa saja mahram tersebut, Allah Swt telah menjelaskannya dalam surat an-Nisa’ (4) ayat 22-23.

7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata.

Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Begitu pula dengan mata yang dibiarkan melihat gambar-gambar atau film yang mengandung unsur pornografi. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.

8. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât.

Ikhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang diboleh-kan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa. Mereka bebas mengumbar pandangan, saling berdekatan dan bersentuhan; seolah tidak ada lagi batas yang ditentukan syariah guna mengatur interaksi di antara mereka. Ikhtilât dilarang karena interaksi semacam ini bisa menjadi mengantarkan pada perbuatan zina yang diharamkan Islam. Karena itu, jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran laki-laki dan perempuan secara bebas.

9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat.

Dinamakan khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sebagaimana ikhtilât, khalwat pun merupakan perantara bagi terjadinya perbuatan zina. Anak-anak sejak kecil harus diajari untuk menghindari perbuatan semacam ini. jika bermain, bermainlah dengan sesama jenis. Jika dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak ber-khalwat.

10. Mendidik etika berhias.

Berhias, jika tidak diatur secara islami, akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan dosa. Berhias berarti usaha untuk memperindah atau mempercantik diri agar bisa berpenampilan menawan. Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias adalah agar berhias tidak untuk perbuatan maksiat.

11. Ihtilâm dan haid.

Ihtilâm adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia balig. Adapun haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilâm dan haid tidak hanya sekadar untuk bisa memahami anak dari pendekatan fisiologis dan psikologis semata. Jika terjadi ihtilâm dan haid, Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain kewajiban untuk melakukan mandi. Yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Artinya, mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat.

sumber : disini

14 responses to “Pendidikan Seks Untuk Anak

  1. di no.1 dikatakan harus menanamkan rasa malu, jgn telanjang di dpn org lain. apakah ini termasuk keluarga sendiri juga?anak bungsu saya(laki laki,11) sering telanjang di depan anak cewek saya(29). tapi ia tidak malu.
    mohon sarannya.terima kasih banysk

    • kalo menurut saya ya, termasuk dengan keluarga sendiri, kalo usia msh tk msh wajar, tapi kalo udah sd 7 thn apalagi 11 thn sudah lumayan gede, sudah harus diajarkan untuk malu walopun dgn kaka sendiri yg cewek, pokonya yg termasuk aurat, jangan diperlihatkan. mudah2an bermanfaat

  2. Pa kabar Bunda? gmn kabar anak2?
    wah lama jg saya ngga mampir ternyata udah banyak kelewatan cerita2 Bunda Amira yg oke semua, hehehe..
    Setuju Bunda, iya sama, Nisha anakku juga selalu minta dipakekan celana panjang kalau pakai rok, minimal pakai leging, katanya malu.
    Pendidikan seks sejak dini ke anak memang pelu ya Bun,a palagi anak2 kita cewe smua. Tentunya dengan bahasa dan contoh yang mudah dipahami anak seusianya🙂

  3. Bunda apa kabar..lama sekali ya gak ada kemunculan.
    Artikel yang bagus bun…buat catatan ku…
    Apa yang bunda katakan benar, sememnagnya kita harus mengajarkan anak dari rasa malu sejak usia kecil..alhamdullilah anak saya sudah memiliki rasa malu baik didepan ayahnya apalai didepan orang dewasa.
    Semoga saja apa yang ia miliki sekarang dapar berlanjut hingga dewasa…

  4. artikel yang bagus nih bun, makasih ya …

  5. semoga bisa menjaga anak2 kita ya bun

  6. saya lebih suka bila wanita pakai rok panjang semata kaki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s