Sepatu Baru Buat Mutia

“Bunda, kenapa Ayah tertidur saja? kenapa banyak orang menangis? “ tanyaku pada Bunda. Bunda melirik dan membelaiku tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan terlihat matanya berlinangan air mata. Pikiranku bertanya2 kenapa, tapi semua orang tidak ada yang memberitahukan kepadaku, mereka hanya memelukku seraya berkata “ Sayang, yang tabah ya” . Itulah hari terakhir aku melihat Ayahku dan ketika aku tanyakan pada Bunda kemana Ayah, Bunda menjawab “ Ayah pergi ke surga “.

“Mut, mut, ayo bantu Bunda donk” lamunanku semasa aku kecil buyar ketika terdengar Bunda memanggil. “ Ayo Mut, cepat dirapihin jajanannya, kita harus segera pergi ke pasar, nanti keburu siang”. Sejak ditinggal Ayah, Aku dan Bunda tinggal bersama di rumah eyang di desa. Untuk menghidupi keluarga, Bunda menjual pisang goreng dan jajanan lain dipasar, dan aku, mutia 10 tahun, selalu ikut beserta Bunda untuk jualan. Setiap subuh, Aku bantuin Bunda menyiapkan dagangan dan pergi kepasar untuk berjualan, setelah itu aku sekolah, pulang sekolah adakalanya membantu Bunda di kebun, mengambil pisang dari pohonnya, singkong, dan hasil kebun lainnya untuk nanti diolah dan dijual. Setiap aku kepasar, mataku selalu tertuju ke pedagang sepatu, dan seperti anak umumnya aku terkadang merengek” Bunda, mutia mau donk dibeliin sepatu, sepatuku sudah tipis dan bolong” . Bunda tersenyum dan memelukku “ Nak, saat ini Bunda belum bisa membelikan sepatu, nanti deh kalo ada 3 orang meminta Ibu menjahitkan pakaiannya dan digabung hasil jualan, insyaAllah uangnya bisa dibelikan sepatu”. Akupun menurut pada perkataan Bunda dan berharap jajanannya habis terjual.

Setiap sekolah, aku dibekali Bunda makanan, supaya aku tidak jajan di sekolah, tapi adakalanya Bunda membekali uang, dan aku selalu menyisihkan uang itu untuk ditabung berharap keinginanku untuk beli sepatu terkabulkan. Hidup emang tidak selalu indah, adakalanya masalah datang, hal itu pun terjadi padaku. Pernah suatu hari aku berkelahi dengan teman kelasku karena mengataiku “ anak miskin dan anak penjual pisang” , marah dan jengkel itu yang aku rasakan saat itu. Bunda disuruh menghadap kepala sekolah karena ulahku dan ketika pulang, Bunda hanya diam dan tidak marah, malah menyuruhku makan dan melakukan kegiatan lainnya, seperti tidak ada kejadian apa2, nah ketika malam menjelang tidur Bunda menghampiriku “ Nak, kenapa berkelahi? dan aku pun menjelaskan apa yang terjadi disekolah dan Bunda hanya tersenyum seraya berkata “ Nak, kamu itu kaya, kaya akan kasih sayang Bunda, eyang, walaupun hidup kita seadanya, Imut masih bisa makan, minum, dan yang lainnya, syukuri apa yang ada ya nak”. Sejak saat itu aku berusaha tidak pernah mengeluh dan berusaha membantu Bunda semampunya.

Saat pagi menjelang, ketika aku mencari-cari sepatu untuk sekolah, aku mendapatkan hadiah terindah dari Bunda “ Sepatu Baru”.

Hikmah dibalik cerita :
1. Dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan
2. Kematian datang tanpa kita ketahui dan kita tidak bisa menghidarinya.
3. Seorang Istri apabila ditinggal suami, akan menjadi tulang pungung keluarga, maka harus punya kemampuan menghasilkan uang, sebisa mungkin membantu keuangan keluarga dengan keahliannya yang dimiliki (memasak, membuat kue, menjahit, dan lain-lain)
4. Anak diajarkan berjualan dan menabung, dengan begitu anak menjadi mandiri dan memberi pelajaran bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu butuh usaha dan kerja keras
4. Anak bermasalah di sekolah, jangan langsung dimarahi, dengarkan pernjelasannya terlebih dahulu , baru deh kasih masukan dan nasehat, dan perhatikan waktu yang tepat untuk berbicara
5. Membuat Bekal makanan untuk anak2 lebih baik dari pada jajan
6. Syukuri apa-apa yang dimiliki

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

40 responses to “Sepatu Baru Buat Mutia

  1. Ping-balik: Award “Kridha Adi Nugraha” | Bunda dan Aku

  2. seorang istri memang jauh lebih kuat dibanding seorang suami yaa….
    hidup PEREMPUAN!!!!

    ehehehehe

  3. semoga succes ya ma kontesnya…….

    salam persahabatan dr menone

  4. Bunda. Entah mengapa setiap membaca kata ini, hati saya meleleh….

  5. bunda..bagus banget ceritanya..hikmahnya apalagi TOB dech..moga sukses kontesnya yach

  6. ini benar-benar ibu handal …… semoga tambah banyak bunda yang kayak gini
    sukses bun

  7. cerita yang bagus bunda dina. jadi teringat dengan almarhum ayah saya dan teringat dengan ibu saya yang selalu berusaha menyekolahkan anak2nya.

    semoga sukses bund

  8. Allisa Yustica Krones

    Mbak Dina, saya sering ngasih komentar di tiap tulisan mbak, tapi gak pernah nampil….masuk spam kah?

  9. Selalu berusaha bersabar menghadapi setiap cobaan.
    Semoga sukses ikutan kontes.
    Salam hangat dari Kendari.

  10. salah satau cerita yang menginspirasi lagi..kadang saya merasa kekurangan padahal banyak yang lebih kekurangan lagi y dibanding saya ^^ salam sukses teh dina🙂

  11. “syukuri apa-apa yang dimiliki” << kata ini yg menginspirasi saya sampe saat ini.. apalagi saya jg sudah kehilangan ayah saya 1.5 thn lalu,,,
    kematian tak dapat dihindari, oleh kita sebaiknya kita berbuat sebaik2nya kpd org tua sblm smua terlambat😦

  12. 6 point yang bunda sebutin kini sedang dan sudah saya jalani Alhamdulillah pelan tapi pasti saya menemukan suatu kenikmatan

    Cerita yang bagus bunda

  13. Amiin semoga menang mba’…tp klo buat saya keep blogging saja. ^_^

  14. Nice story, bund..
    Sukses ya di kontesnya..

    Btw bund, aku sering ngasih komen di sini, tapi suka gak nampil, apa masuk ke spam yah?

  15. mendidik tidak harus dengan kekerasan dan amarah. Atas stempel komandan blogcamp JURI datang menilai. Terima kasih atas cerita hidup yang penuh hikmah. salam hangat

  16. Ceritanya menyentuh..
    Semoga sukses di kontas ya🙂

  17. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
    Artikel anda akan segera di catat
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

  18. sukses ya mbak ..

    salam 🙂

  19. Sukses bun dengan kontesnya🙂

  20. semoga kontesnya sukses ya….

  21. sukses ya kontesnya, semua anugrah patut disyukuri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s