Kentang Busuk di Halal Bihalal

Bulan Ramadhan sudah berlalu, Lebaran pun sudah berlalu beberapa minggu ini, rasanya tak afhol jika tidak ada halal bihalal. Halal bihalal ini bukan suatu keharusan, tetapi lebih ke tradisi dan sebagai wadah untuk bisa silaturahim dan bermaaf2an. Hari kemarin , Kantor mengadakan halal bihahal mengundang karyawan yang sudah pensiun dan tentunya karyawan yang masih aktif. Di acara halal bihalal tersebut diisi tausyiah oleh para sesepuh . Seorang sesepuh bercerita ttg Kentang Busuk tetapi  bercerita sebagian, hanya diambil intinya ( Dengan bantuan mbah google, cerita lengkap Kentang Busuk  ternyata saya bisa dapat dari sini ).

Kisah diawali dari sebuah padepokan Budi Pekerti. Guru Bijaksana menutup pelajaran hari itu dengan sebuah pertanyaan empiris.

“Murid-muridku, hidup ini ibarat pelangi. Ibarat permen nano-nano. Ada rasa cinta, ada rasa benci. Nah, siapa yang punya rasa cinta?” Tanya Guru Bijaksana. Semua murid mengacungkan telunjuk. Beberapa sembari tersipu malu. Guru Bijaksana tersenyum.
“Bagus… bagus. Siapa yang punya rasa benci saat ini?” Tanya Guru lagi. Sepi. Murid-murid saling pandang. Satu demi satu mereka mengangkat telunjuk.

“Bagus… bagus. Tidak apa. Itu wajar terjadi pada setiap manusia.” Ujar Guru. Telunjuk yang teracung semakin banyak. Kalimat Guru Bijaksana yang mendorongnya.“Bagus. Kejujuran sangat penting, terutama jujur terhadap diri sendiri. Benci, cinta, marah, kesal, semua perlu kita rasakan agar kita bisa memaknai hidup dengan seutuhnya.” Ujar sang Guru. “Nah, anak-anakku tercinta. Guru ingin kalian mengumpulkan kentang sejumlah orang yang kalian tidak sukai, dalam satu kantong plastik. Bawalah besok. Kentang yang ukuran sedang, ya. Beli juga tak apa.”
Para murid saling menatap, heran. Kentang? Untuk apa?

“Eng… untuk apa, Guru? Kita hendak demo masak?” celetuk seorang murid. Guru Bijaksana tersenyum menggeleng.
“Kalian akan tahu jawabannya besok. Ingat, kentang sejumlah orang yang kalian benci, iri, dendam, pokoknya kalian mempunyai perasaan negative pada mereka.”

Murid-murid padepokan Budi Pekerti adalah murid yang patuh, karena guru mereka benar-benar sosok yang bisa “diguru dan ditiru”. Mengajarkan nilai lewat perbuatan, contoh dan teladan, bukan sekedar retorika dibalut kemunafikan. Semua membawa kentang sejumlah orang yang mereka tidak sukai. Ada yang membawa 2 kentang, 5 kentang, bahkan ada yang nampak penuh kantong plastiknya. Berat. Guru Bijaksana tersenyum. Yah, tak ada manusia yang lepas dari perasaan buruk.

“Bagus… bagus. Guru akan jelaskan, mengapa kalian harus membawa kentang itu. Kentang itu akan menjadi bagian tak terpisahkan, mulai saat ini. Kalian harus membawanya, kemana pun kalian pergi. Makan, tidur, belajar, bergurau, bahkan ke kamar mandi. Bawalah terus, hingga Guru perintahkan menyudahi.”

Mulut murid-murid Padepokan Budi Pekerti serempak membuka.
“Kemana saja? Membawa kentang? Tapi… itu sangat merepotkan, Guru!” seorang murid protes. Kentang yang ia bawa 10 buah, besar-besar lagi. Semula ia ingin pamer, kentangnyalah yang terbanyak dan terbaik. Huuuh, kalau tahu begini…
“Anak-anakku, lakukanlah apa yang Guru perintahkan. Jalani. Nanti, kalian akan lebih mudah menerima pelajaran yang akan Guru sampaikankan, terkait dengan kentang itu.”
“Ya… tapi sampai kapan, Guru?” seorang anak lain terlihat enggan.
“Sampai Guru menyuruh berhenti.” Jelas Guru Bijaksana dengan senyum dikulum.

Begitulah. Semua murid melaksanakan perintah Guru Bijaksana. Ada yang patuh dengan sukarela, tetapi banyak yang bersungut-sungut tak suka. Bagi yang sukarela, tentu saja ia berusaha enteng saja membawa kentang kemana-mana. Bagi yang terpaksa, kentang itu benar-benar merepotkan dan menyebalkan, makin berat saja terasa. Bahkan, menjadi semakin berat karena satu kentang harus dimasukkan lagi. Kentang atas nama kesal terhadap Guru Bijaksana.

Hari demi hari lewat. Kentang mulai membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap. Beberapa murid mulai terpikir untuk membuang saja benda itu, tetapi nasehat dan ilmu sang guru menghalangi niatan tersebut. Beberapa berharap Guru Bijaksana segera menghentikan “penyiksaan”, apalagi saat pelajaran Guru Bijaksana dengan jelas bisa melihat kentang-kentang yang murid-muridnya bawa, dan mulai menebar aroma. Beberapa hari lewat lagi. Kentang benar-benar telah busuk. Lembek. Bau. Hitam berhias jamur putih. Plastik pembungkusnya telah berganti warna, kecoklatan dengan rembesan air menjijikkan. Murid-murid sudah tidak tahan, terutama yang mempunyai koleksi kentang cukup banyak. Beberapa bahkan telah membuang kentang-kentang itu, diam-diam.

Guru Bijaksana tahu apa yang terjadi, dan menanyakan keadaan kentang-kentang itu di suatu pagi, saat berlangsung pelajaran budi pekerti.
“Anak-anakku, bagaimana kabar kentang kalian?” Tanya Guru ramah.
“Busuk! Bau! Menjijikkan!” teriakan lantang terdengar.
“Merepotkan! Memberatkan!” timpal yang lain.
“Sudah saya buang, Guru! Saya benar-benar tak tahan!” sambung lainnya lagi.
Berbagai komentar negative segera saja memenuhi udara ruang pengajaran. Guru Bijaksana tersenyum, mengangguk-angguk.

“Jadi, tak seorang pun menyukai kentang itu?” Tanya Guru. Semua mengangguk.
“Semua sepakat membuangnya?” kembali Guru Bijaksana bertanya. Murid-murid sama mengiyakan. Guru Bijaksana pun memerintahkan semua kentang dikumplkan dan dibuang jauh-jauh melewati halaman padepokan.

“Nah, anak-anakku. Rasa benci, iri, dengki, dendam dan apa pun perasaan negative kita terhadap orang lain, ibarat kentang tadi. Tak ada manfaat kita dapatkan. Kita merasa sesak, sempit, repot, berat dan terbebani. Semakin banyak orang yang kita tidak sukai, semakin berat beban jiwa kita. Andai kita bisa membuang semua rasa buruk itu, seperti kita membuang kentang-kentang, niscaya hidup kita lebih menyenangkan. Tak ada yang rugi saat kita banyak mengidap perasaan dengki, benci, dendam dll, selain diri kita sendiri. Tak ada yang beruntung saat kita membuang perasaan buruk kita, selain diri kita sendiri. Mulailah membuang kentang-kentang itu, anakku.”

Semua murid terpekur. Kentang busuk. Perasaan busuk. Buang. Benar-benar Guru Bijaksana.

Subhanallah, Tausyiah yang ngena banget deh. Start hari ini, buang jauh2 deh rasa dendam, dengki, iri, benci.

24 responses to “Kentang Busuk di Halal Bihalal

  1. hehe intinya jangan bawa kentang busuk ya xixi
    makasih atas tausiyahnya ^^

  2. salam kenal Bunda…

    saya link ya blog nya di blog ku hehehe

  3. hmmm… Tausiyah yang sangat mengena sekali.. Makasih telah berbagi ceritanya Bunda..

  4. mmm…ini saya alami dulu pas TK, bukan kentang sih, waktu itu buah tomat, bahkan di masing2 tomat disuruh nulis orang2 yang kamu benci..baru 2 hari saja tomat2 ini bentuknya udah gak karu2an, jangan ditanya baunya deh..fyuuuh

  5. Jadi inget ungkapan di Roman Romeo dan Juliet : “Saya selalu mencintai, karena itu saya tak pernah membenci.”

    hehehe, klo dari kecil kita paham klo membenci itu berat dan menyusahkan, pasti semua orang gak ada yang doyan ngamuk lagi yah mbak ^^

    iya, susah, susah, susah

  6. betul sekali tuh ya…. kita emang harus membuang semua yang negatif2 itu biar gak sampe membusuk di kita nya sendiri….😀

  7. Yup, setuju banget Din!
    Buang jauh-jauh semua rasa negatif, dan menggantinya dengan rasa positif…
    Maaf lahir batin ya, ini juga dalam rangka menghindari rasa negatif tadi, hehehe😀

  8. cerita yang penu makna.
    Iri,dengki,benci memang akan menggerogoti hati kita. Padahal yang kita iri atau kita benci nggak tahu lho, kita yg senewen sendiri.

    salam hangat dari Surabaya

  9. Bu Guru yang bijaksana, ceritanya sangat menyentuh……
    Terima kasih…………….salam

  10. Bunda amira, waduh…sangat inspiratif …membuat saya tertegun…selama ini kok kayaknya susah buat jadi yang lebih baik…masih ada juga rasa rasa negatif yang kadang nyempil…didalam hati kecil ini..:) hedeh bahasanya kok susah dimengerti yah🙂 …ijin aku re posting ke blog ku yah…hehehe mengekor dot com, boleh kan bun….berbagi hal positif untuk yang lain…:)

    SIlahkan🙂

  11. Aku tercenung…
    Dalam…
    Salam

  12. Cerita yang banyak menyimpan hikmah kebaikan

  13. pinter banget perumpamaannya, dgn contoh spt ini,tausiyah akan lebih mengena di hati

  14. Renungan yg bagus, bund… Hidup ini mmg tll berharga utk diisi oleh kebencian.

  15. Langsung liat keranjang sendiri. Ada kentang busuknya nggak ya?
    Thanks postingnya bun..

  16. Wah menarik juga cerita kentang busuknya!

  17. kunjungan balasan🙂

    sebuah perumpamaan yang sederhana tapi kena banget..🙂
    semakin byk ‘kentang’ yang kita bawa.. beban hidup kita semakin berat. Kebencian yang dipelihara justru nantinya akan membusuk, membuat hati kita tidak tenang …

    nice lesson.

  18. Beruntung saya jarang membenci atau sakit hati pada seseorang karena saya pikir buang-buang waktu dan energi saja. Terima kasih pembelajarannya. Terima kasih ilmunya.

    Salam kenal kembali dari guru sekolah pinggiran. Terima kasih kunjungannya.

  19. Saya selalu berusaha mengungkapkan ketidaksukaan saya akan seseorang begitu saya merasakannya.. kdang itu membuat hati kita sendiri nyaman karena tidak menyimpan2 kentang busuk tadi dan orang yang dituju juga mengerti apa yang tidak kita suka darinya.. tapi terkadang tidak semudah itu karena orang yang ditunjuk bisa saja merasa dia tidak berbuat sesuatu yang salah dan mungkin malah menimbulkan konflik.. tapi menyimpan kentang2 busuk itu memang sangat merepotkan dan menyusahkan😦

  20. wah guru yang bijaksana…

    salam kenal Bunda…

  21. Hallo… salam kenal.

    Nice post. Terima kasih.

  22. thanks buat renungannya. iri dengki buat ga enak hrs dibuang jauh2

  23. Subhanallah.. keren banget ajaran gurunya Bunda.. benar2 kena di hati nih..
    saya akan melakukannya juga ah, bukan bawa kentangnya tapi membuang pikiran2 negatif dan gak berguna lainnya🙂
    terima kasih berbagi tulisan ini..
    salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s