Never Ending Ta’aruf

Dengan  berbekal niat, 1 lembar kertas disertai foto, dan keinginan tauan yang besar, saya berniat mencari alamat rumah yang tertera di kertas itu, hmm…. Jl. Cinta no. 22, saya tau  daerah itu, tapi daerah itu sangat luas, tapi niat dan keingintahuan mengalahkan segala2nya, tak kerasa matahari sedang terik2nya, tak kerasa keringat membasahi baju, tak kerasa motor ini sudah berjalan jauh, tak kerasa perut sudah keroncongan, tapi niatku sudah bulat, saya harus tau rumah itu. Ku telusuri jalan, pindah dari gang satu ke gang yang lainnya, tiba2…stttt, sepintas berkelebat sesosok perempuan yang saya inget hampir sama dengan yang ada di foto. Kucoba mendekati dia pelan2 berharap bisa melihat wajahnya dengan jelas, dan  beruntungnya saya, perempuan itu berhenti, “oo, ternyata perempuan itu sedang menanti angkutan kota”, kesempatan itu tak saya sia-siakan, saya berpura2 berjalan didepannya, dan kuperhatikan wajahnya dengan seksama, dan ahhh, ternyata benar dugaaanku, diaa, diaa yang ada di foto itu. Alhamdulillah, ya Allah, engkau mempertemukan saya dengannya. Untungnya perempuan itu tidak curiga dan tidak merasakan kehadiranku, mungkin.. Kuperhatikan dia dari kejauhan, berbaju hijau, berjilbab hijau, sampai akhirnya perempuan tadi masuk angkutan kota. Dengan antusias, saya mengikuti angkutan kota itu, berharap tahu kemana sang perempuan pergi dan bertemu dengan siapa., tapi ketika sampai persimpangan jalan, saya terhenti oleh lampu merah, dan ketika lampu berubah hijau, saya pacu motorku dengan cepat mencari2 angkutan kota yang ditumpangi perempuan tadi, tetapi saya kehilangan jejaknya, tapi walau begitu rasa penasaranku sedikit terbalaskan,  Pertemuan singat tapi manis menurut saya, walau tanpa suara, hanya mata yang berbicara. Di seperempat malam, saya terbangun, mengambil wudhu, dan menjalankan sholat istikhoroh, dengan lirih ku berdoa “Ya, Allah jika dia yang terbaik untukku, dekatlah dia padaku, tetapi jika dia bukan jodohku, semoga ada yang lebih baik lagi”

Hari yang ditunggu telah tiba, jantungku berdetak sangat kencang, “Apakah ini saatnya , semoga ya Allah” pikirku saat itu. Kumantapkan hatiku untuk memilih dia,. Hari itu adalah hari dimana saya akan mengenalnya pertama kali, walaupun sebelumnya saya sudah disodorkan 5 lembar kertas berisi biodata lengkap sang perempuan dan dilengkapi foto, tapi hari itu, saya akan mendengarkan dia berbicara, berkenalan dengan si dia, dan apakah dia akan menerimaku, ahh. Bismillah.Terlihat sang perempuan didampingi seorang perempuan lain yang tak lain adalah guru ngajinya, sementara saya didampingi suami guru ngajinya, Saya sudah kenal dengan suami guru ngajinya, sama2 satu almamater, beda jurusan. Di kesempatan itu, saya dan sang perempuan diperbolehkan bertanya sepuas2nya ttg diri masing2, keluarga, dan hal lainnya. Perkenalan ini lebih banyak melihat ciri-ciri yang menentramkan dan memantapkan pilihan, apakah mau dilanjutkan ke pihak keluarga, atau stop saat itu juga, tidak melanjutkan. Mesjid ini menjadi saksi pertemuan kami, Alhamdulillah sang perempuan melanjutkan pertemuan kami dengan bertemu pihak orang tua. Sekilas tidak ada bedanya dengan orang yang melamar kerja, ngirim lembaran biodata terus diwawancara, baru deh diputuskan diterima atau tidak, dan kelihatannya mendapatkan sang perempuan begitu mudah, hanya dengan 5 lembar kertas dan foto, tetapi tidak bagi saya, hal ini tidak gampang, saya berproses ketika saya memutuskan memilih jalan ini untuk mencari pendamping hidup, saya sama seperti pemuda lainnya, merasakan namanya cinta, berpetualang mencari cinta, merasakan yang namanya putus nyambung, merasakan yang namanya sakit hati, dari petualangan itu saya belajar, ternyata saya tidak merasakan ketenangan didalamnya, yang ada hanya hasrat sesaat, nafsu sesaat, dan kalo ga kuat iman, bisa mendekati zina bahkan terjerumus, sampai seorang teman memperkenalkan saya kepada islam, dimana didalamnya diajarkan bagaimana indahnya cinta dalam rumah tangga islami, bahwa untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, dimulai dengan melakukan perkenalan (ta’aruf) sesuai syari’at, yang ditengahi orang ketiga, bisa orang tua, saudara, guru ngaji, pokonya yang dituakan, tapi intinya ketika dua insan bertemu, haruslah didampingi mahramnya, kalo tidak, yang ketiganya adalah syetan. Ahh, indah bukan, islam sangat menjaga seorang perempuan, agar hal2 yang tidak diinginkan terhindar, itu menurut saya. Alhamdulillah, sang perempuan berbaju hijau yang saya kuntit diam2 itu, akhirnya resmi menjadi pasangan hidup saya, tapi taaruf tidak berhenti sampai akad saja, ta’aruf terus berlanjut untuk memberikan perawatan terhadap cinta . Never Ending Ta’aruf.

Kekasih kalian adalah sebuah misteri yang harus dikuak. Setiap penggalan waktu yang dilalui bersama antara suami istri adalah proses panjang untuk saling ta’aruf. Ta’aruf yang berorientasi untuk memelihara cinta. Saat itu kalian tidak lagi memiliki pilihan kecuali mempertahankan cinta bagaimana pun keadaan kekasih kalian. Daya tahan kebersamaan itu akan semakin terjaga ketika kalian tiada sekedar menyesali kekurangan kekasih kalian, tetapi berusaha dengan sabar dan penuh kasih sayang untuk menumbuhkannya.

2 responses to “Never Ending Ta’aruf

  1. kunjungn pertama salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s