Kesalahan seperti titik hitam di kertas putih

Kisah ini sangat inpiratif sekali, terutama dalam kegiatan belajar mengajar KBM),  saya copy paste dari sini. Semoga bermanfaat🙂

Suatu hari, dalam perjalanan saya menemani teman-teman dari negara tetangga untuk studi banding dengan beberapa sekolah di Indonesia, kami mendatangi sebuah SD unggulan di wilayah Bantul. Ada hal yang menarik perhatian saya ketika saya memasuki sebuah kelas. Di dinding bagian belakang kelas itu terdapat sebuah poster dengan tulisan “KESALAHAN SEPERTI TITIK HITAM DI KERTAS PUTIH”. Dibawah tulisan itu tertera nama semua siswa di kelas tersebut dan juga nama guru kelasnya.

Dengan penuh rasa penasaran, saya pun bertanya pada sang guru, untuk apa sih poster tersebut? Lalu sang guru menjawab bahwa, poster itu digunakan untuk mencatat kesalahan yang dilakukan oleh para siswa atau gurunya. Contohnya apabila seorang siswa datang terlambat atau tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mereka tidak dihukum, tetapi mereka akan membubuhkan satu titik hitam di kotak yang bertuliskan namanya. Namun apabila siswa tersebut berprestasi atau melakukan suatu tindakan terpuji, mereka pun bisa menghapus titik hitam tersebut. Hal ini pun berlaku untuk Guru yang mengajar dikelas itu.

Saya tertegun dengan sistem “rewards and punishments” yang diterapkan di kelas ini. Menurut saya sistem ‘punishment’ seperti ini cukup menarik dan effektif. Kita dapat memberikan hukuman pada siswa yang melanggar peraturan, juga memberikan effek jera kepada mereka, namun bentuk hukumannya pun masih bersifat mendidik dan tidak menurunkan motivasi siswa. Mengapa demikian? Karena di dalam kelas ini, siswa masih mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah mereka lakukan dengan melakukan suatu tindakan terpuji.

Bayangkan apabila anak dimarahi oleh gurunya atau mendapat hukuman – apalagi hukuman fisik – anak tersebut akan merasa dipermalukan di depan teman-temannya. Kejadian seperti ini akan sangat men-demotivasi siswa. Selain itu, sekali mereka merasa dipermalukan, kejadian itu akan terus teringat oleh mereka dan akan sulit untuk terhapuskan.

Saya pun terinspirasi dengan cara “punishment” seperti ini, ternyata masih ada cara menegakkan disiplin untuk siswa yang lebih mendidik dan memotivasi. Semoga para “oknum” guru pelaku tindakan anarkis dapat terinspirasi dengan cara ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s