Kesalahan setitik tampak, kebaikan yang banyak tak tampak

Kisah ini menurutku sangat indah sekali, saya copy darisini, semoga saja juga memberi manfaat kepada siapa saja yang belum pernah membaca kisah ini🙂

Ada seorang anak yang suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Dia dengan cekatan akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, ia akan menyalahkan teman dan orangtuanya.

Pada suatu hari anak itu berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.Terpikir olehnya bahwa madunya pasti sangat manis dan lezat, maka tergoda hatinya untuk mengambil madunya, si anak bertekad mengusir lebah yang ada di dalam sarang itu.

Ia pun mengambil sebatang galah dan kemudian menyodok sarang lebah itu dengan keras. Tentu saja, hal itu menyebabkan ribuan lebah merasa terusik dan mereka pun segera menyerang anak itu. Melihat lebah yang begitu banyak, anak itu lari terbirit-birit. Namun tentu saja lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Mereka terus saja menyengat anak itu.

Untuk menghindari sengatan lebah selanjutnya, anak itu nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pun pergi meninggalkan anak yang sedang kesakitan itu.

Sesampainya di rumah, diceritakanlah apa yang dialaminya tadi kepada ayahnya, tentu saja disertai kata-kata yang menyalahkan ayahnya.

“Mengapa Ayah tidak menolongku ? Jika Ayah sayang padaku, pasti Ayah sudah berusaha menyelamatkan aku. Semua ini salah Ayah !”

Ayahnya memandang sang anak dengan sedih. Setelah diam sejenak, dia mengambil selembar kertas putih.

“Anakku, apa yang kau lihat dari kertas ini ?” tanya sang Ayah seraya menunjukkan kertas itu di depan anaknya.

“Itu hanya kertas putih. Tidak ada gambarnya sama sekali,” jawab anak itu.

Kemudian, sang Ayah menorehkan sebuah titik berwarna hitam di kertas putih itu.

“Sekarang…, apa yang kau lihat pada kertas putih ini ?” tanya Ayahnya lagi.

“Ada titik hitam di kertas itu,” jawab anak itu segera.

“Anakku, mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini ? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah, padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu.”

Selesai berkata sang Ayah pun pergi meninggalkan anaknya yang sedang termenung.

2 responses to “Kesalahan setitik tampak, kebaikan yang banyak tak tampak

  1. terharuuuu
    keren deh ceritanya

    visit my blog!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s